Tampilkan postingan dengan label Tki/TKW Sukses. Tampilkan semua postingan

Para Pembantu Singapura Lulus Kursus
(visijobs-news) - Sebanyak 1784 penatalaksana rumahtangga (PLRT) berhasil menyelesaikan kursus komputer, menjahit, tatarias wajah, Universitas Terbuka, Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris, di Singapura. Ke-1784 PLRT tersebut menyelesaikan pendidikannya pada Program Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kerja (P3K) di Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

"Program P3K yang dikelola oleh KBRI Singapura dirintis sejak 2009 oleh Duta Besar RI Wardana yang saat ini menjadi Wakil Menteri Luar Negeri," demikian Duta Besar RI untuk Singapura Andri Hadi. Menurut Dubes, dalam jangka panjang program ini ditujukan untuk menyiapkan PLRT purna penempatan, sehingga pada saat kembali ke tanah air mereka dapat memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh untuk memulai usaha baru.

Disebutkan bahwa program ini mendapat dukungan penuh seluruh komponen masyarakat Indonesia di Singapura, yang dibuktikan dengan adanya beberapa tenaga relawan pengajar dari kalangan mahasiswa, profesional hingga ibu rumah tangga.

Capaian terkini, salah satu program P3K adalah dalam Ujian Nasional Kesetaraan B dan C tahun ajaran 2011 dimana untuk Paket B berhasil meluluskan 37 peserta dari 41 PLRT (90%) dan Paket C berhasil meluluskan 84 peserta dari 88 PLRT (96%).

Jumlah kelulusan ini mengalami peningkatan sangat signifikan dibandingkan jumlah kelulusan tahun sebelumnya yang hanya di bawah 50 persen. Statistik total kelulusan tercatat ada 1784 PLRT sejak program ini dirintis pada 2009.

Menurut Kepala Sekretariat P3K Yaya Sutarya, program P3K dilakukan setiap hari Minggu agar tidak mengganggu kegiatan sekolah formal di SIS, dan pada umumnya para PLRT diberi ijin libur oleh majikan mereka pada akhir pekan.

Metode pengajaran yang diberikan sama dengan penyelenggaraan sekolah formal bertaraf internasional. Media pembelajaran sudah menggunakan e-learning dan kurikulum yang digunakan mengadaptasi kurikulum internasional.

"Sebagai contoh, modul yang digunakan untuk kursus Bahasa Inggris telah mengadaptasi kurikulum Cambridge," ujar Sutarya, melalui Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya Fachry Sulaiman.

Perangkat pendukung seperti e-library dan jaringan wifi yang disediakan oleh KBRI Singapura dinilai sangat membantu para peserta didik mengakses informasi global lebih mudah.

Di samping itu, P3K juga memberikan keterampilan tambahan seperti Bahasa Mandarin, keterampilan berwirausaha, keagamaan dan konsultasi kerja.

"Kegiatan extrakurikuler olahraga, seni musik dan tari diberikan juga kepada para peserta didik sebagai bekal dalam promosi budaya Indonesia," imbuh Sutarya.

Semua kegiatan tersebut kecuali untuk pembayaran uang kuliah di Universitas Terbuka diberikan secara cuma-cuma kepada para PLRT di Singapura. Untuk kelancaran semua Kegiatan P3K ini didukung oleh 26 tenaga pengajar dari SIS dan relawan lokal.

Program P3K dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para PLRT di Singapura agar menjadi pekerja yang kompetitif dan berpandangan ke depan. Selain itu juga untuk mendukung pengetahuan keselamatan kerja sebagai pekerja asing di Singapura.

(prs/PRS/dtc)

(foto : kemlu)


Anda Ingin Bekerja di Singapura atau negara lainnya, Taiwan, Hong Kong dan Malaysia silahkan hubungi PJTKI RESMI.

Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"
Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati). 
HP : 087 858 111 096 (XL). 
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 

TKI / TKW Mengikuti di Kuliah Terbuka (UT) Singapura
TKW Mengikuti di Kuliah Terbuka (UT) Singapura
Pembantu Masuk Kelas, majikan menunggu di kantin.

Tenaga kerja Indonesia (TKI) di Singapura kini memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan. Dengan berdirinya Universitas Terbuka (UT), mereka pun bisa merasakan kuliah dan meraih gelar sarjana.


-------------------------------------------
ZULHAM MUBARAK, Singapura
-------------------------------------------

MINGGU (19/7) tepat pukul 10.00 waktu Singapura, suasana di Sekolah Indonesia-Singapura yang terletak di Siglap Road nomor 20A mulai ramai. Kantin gedung sekolah tiga lantai itu mulai padat oleh sejumlah wanita paro baya. Sebagian dari mereka menenteng laptop dan sebagian sibuk menelepon. Ada juga yang bercengkerama dan membaca buku. Samar-samar terdengar sebagian dari mereka tampak berdiskusi seputar kondisi politik Indonesia.

Dengan bahasa Indonesia bercampur logat Melayu, para wanita itu serius mengutip referensi dari halaman media-media lokal di Indonesia yang mereka akses lewat laptop. Setelah itu, mereka sibuk mendiskusikannya. Siapa mereka? Siapa sangka mereka adalah para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang memang bersiap memasuki kelas perkuliahan awal semester II setelah menikmati libur semester I di Universitas Terbuka (UT) Singapura. Para pembantu rumah tangga itu tercatat sebagai mahasiswa di UT cabang Singapura tersebut.

"KBRI memang mendorong mahasiswa yang juga TKI itu untuk memaksimalkan waktu luang dan berdiskusi seputar isu-isu politik nasional," ujar ketua pelaksana pendidikan di KBRI Singapura Fahmi Aris Innayah sembari mengantarkan wartawan berkeliling di kampus UT Singapura tersebut.

Kampus UT terletak di lahan seluas kurang lebih satu hektare. Di atas lahan itu dibangun berbagai fasilitas lengkap untuk mendukung sarana pendidikan, seperti ruang kelas, sarana olahraga, dan hall untuk menggelar pertunjukan teater dan tempat wisuda. Ada juga ruang berisi alat-alat kesenian tradisional Indonesia, seperti gamelan dan berbagai kostum adat Indonesia.

Pada hari biasa, bangunan yang dikelola KBRI itu digunakan sebagai tempat pendidikan anak-anak WNI yang tinggal di Singapura. Di sana tersedia sarana belajar dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai SMA dengan kurikulum dan metode pembelajaran Indonesia. Pada Minggu, fasilitas pendidikan itu dimanfaatkan untuk lembaga pendidikan tinggi bagi TKI. Selain program kejar paket A hingga C, ada program UT.

Fahmi mengatakan, KBRI sempat pesimistis ketika kali pertama membuka program perkuliahan untuk TKI pada Maret lalu. Tenyata pada hari pertama pendaftaran, 50 formulir diambil calon mahasiswa. Pada penutupan pendaftaran sudah tercatat secara resmi 74 mahasiswa yang terbagi pada lima jurusan. Empat jurusan strata satu (S-1), yakni jurusan ilmu pemerintahan, ilmu administrasi, manajemen, dan akuntansi, serta D-3 bahasa Inggris. "Semua mahasiswanya adalah TKI," kata Fahmi.

Dia tak menyangka bahwa para TKI di Singapura ternyata juga memiliki minat meningkatkan kemampuan. Tak hanya kelas perkuliahan, KBRI juga sudah membuka layanan kejar paket B dan paket C dengan peminat mencapai 80 orang. Selain itu, TKI bisa mengikuti les komputer (kini sudah 200 orang) dan bahasa Inggris (kini pesertanya 150 orang). Tak disangka, ketika program tersebut berjalan, prestasi para TKI juga sangat bagus. Bahkan, pada ujian semester pertama kemarin hampir 70 persen indeks prestasi kumulatif (IPK) para mahasiswa UT untuk TKI rata-rata di atas tiga. "Yang tertinggi IPK 3,5 dan itu dengan kurikulum yang sama dengan universitas-universitas sejenis di Indonesia," ujar Fahmi bangga.

Sepintas, penampilan 74 mahasiswa sama sekali tidak mengesankan sebagai TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tak sedikit dari mereka yang tampil modis layaknya mahasiswa di Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia. Untuk sampai di kampus, tak sedikit dari mereka yang diantar dengan mobil mewah milik sang majikan. Bukan diturunkan di pinggir jalan, tapi diantar hingga gerbang kampus. Bahkan, sang majikan sendiri yang mengantar mereka. Ketika TKI itu mengikuti kuliah, sang majikan menunggu di kantin. Ada pula yang datang ke kampus dengan naik taksi.

Jawa Pos sempat mengikuti salah satu kelas perkuliahan di jurusan D-3 Bahasa Inggris yang digelar di UT tersebut. Tak disangka, semua mahasiswanya adalah perempuan. Di dalam kelas mereka juga tak segan bertanya dan saling berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang sangat fasih. Berbeda dengan warga Singapura kebanyakan yang sehari-hari menggunakan logat Singlish (Inggris Singapura), para mahasiswa di dalam kelas lebih membiasakan menggunakan logat British English. Padahal, untuk bisa menguasai logat butuh proses komunikasi dengan bahasa Inggris yang cukup intens. "Kami menyadari bahwa bahasa Inggris Singapura itu cenderung merusak keaslian bahasa Inggris. Maka, ketika kami berbicara di kampus, kami lebih suka menggunakan logat British," ujar Muzalimah Suradi, 30, tegas.

Muzalimah adalah seorang mahasiswa UT yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Singapura lebih dari 10 tahun. Selama periode itu, dia telah berkali-kali menempuh pendidikan di berbagai lembaga pendidikan di Singapura. Sebelum mengambil jurusan D-3 Bahasa Inggris di UT, dia telah mengantongi ijazah Institute of Technical Education (ITE) untuk bidang Worker Improvement Through Secondary Education (WISE). "Saya menempuh pendidikan selama dua tahun dan sudah ada tiga sertifikat di tangan saya," tegasnya.

Wanita berjilbab itu mengaku bangga bekerja sebagai TKI. Sebab, sebagai buruh migran dia merasa berperan dalam membantu memberikan devisa bagi negara. Tak hanya itu, dia juga bisa membantu menyekolahkan dua adiknya di kota asalnya, Kediri, hingga selesai menempuh bangku perkuliahan. "Setelah mereka lulus, baru kini waktu bagi saya untuk kuliah," ujarnya, lantas tertawa.

Muzalimah mewakili rekan-rekannya mengaku cukup beruntung karena mendapat majikan yang sangat melek terhadap upaya mereka meningkatkan kualitas pendidikan. Dia sendiri, selain menjadi pembantu rumah tangga juga menjadi kontributor berita untuk salah satu media harian di Singapura, yakni sebuah media di bawah Singapore press holding. "Kesempatan berkarya membuat kami semakin terbuka untuk bisa menaikkan kualitas menjadi pekerja yang lebih profesional," jelasnya.

Wanita yang masih single itu mengatakan, problem untuk berkuliah di Singapura kebanyakan berpangkal pada ketersediaan handout. Namun, problem itu terpecahkan setelah UT membuka situs pemesanan buku secara online. "Karena kami di sini terbiasa online, jadi untuk pemesanan buku menjadi lebih mudah daripada harus pergi bolak-balik ke KBRI untuk memesan manual," katanya.

Muzalimah mengaku bahwa kontrak kerjanya di Negeri Singa akan habis pada Oktober mendatang. Setelah itu, dia mengaku akan intensif menyelesaikan studi. Dia bercita-cita bisa pulang dengan gelar diploma bahasa Inggris agar bisa memenuhi keinginan terpendamnya, yakni menjadi guru. "Paling tidak ini membanggakan karena saya juga berstatus alumnus mahasiswa Singapura," kelakar dia.

Seorang TKI lain yang ingin pulang ke Indonesia dengan membawa gelar sarjana adalah Wariati, 20. Minggu lalu dia ikut antre mengambil formulir pendaftaran masuk UT. Dia mengaku termotivasi untuk melanjutkan belajar karena tak ingin waktu luangnya di akhir pekan menjadi sia-sia.

Apalagi, biaya pendaftaran cukup terjangkau, yakni SGD 50 atau sekitar Rp 350 ribu per semester. Dengan gaji rata-rata SGD 350 per bulan, dia tak keberatan menyisihkan sebagian dari pendapatannya untuk kuliah. "Siapa sih mas yang tidak ingin pintar, apalagi mumpung ada kesempatan bekerja sambil kuliah," ujarnya.
Wanita asal Wonosobo, Jateng, itu berharap jenjang pendidikan tinggi yang ditempuhnya di Singapura ini memberikan manfaat kelak ketika dia memutuskan kembali ke Tanah Air. Dia memiliki mimpi untuk mengubah citra TKI yang selama ini dipandang miring oleh masyarakat. "Kami ini kan identik dengan pembantu. Jadi, ketika kami pulang dengan ijazah sarjana, tentu kami dapat lebih bangga," ucapnya. (nw) 


Anda Ingin Bekerja di Singapura atau negara lainnya, Taiwan, Hong Kong dan Malaysia silahkan hubungi PJTKI RESMI.

Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"
Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati). 
HP : 087 858 111 096 (XL). 
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 

Pengembangan Ilmu Kewirausahaan untuk TKI Singapura
“Sudah capek jadi PRT? Pingin buka usaha sendiri? Tapi kalau tidak tahu langkah-langkahnya bagaimana?” Solusi yang tepat adalah pembelajaran kewirausahaan.  Program pembelajaran kewirausahaan ini  diselenggarakan oleh Devolepment Singapore. Program tersebut memang dikhusukan bagi para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Bagiamana cara mengolah keuangan secara baik dan juga pembelajaran dini diajarkan untuk melahirkan penguasaha-pengusaha baru.

Minggu, 17 Juni 2012 bertempat di Grand Hytt. Kehadiran tamu kehormatan  Dharma Kusuma dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) Jakarta disambut beberapa murid yang menghadiri seminar dan workshop “Selling Skill” untuk penambahan ilmu kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Devolepment Singapura. Acara dihadiri oleh murid-murid dari program sekolah kejar paket B dan C (Setara SMP dan SMA), juga pelajar bisnis entrepeuner level 1 dan 2.  Semangat para guru tutors juga turut menyemarakkan seminar tersebut. Namun masih ada juga bangku  kosong. Banyak terlihat murid-murid yang di luar ruangan bahkan ada yang baru datang menikmati makan di luar tanpa memperdulikan kesempatan emas dalam seminar yang diberikan oleh Dharma.

Acara  dimulai dari pukul 11 pagi sampai 12:30 siang.waktu Singapura. Antusiasme dari murid-murid yang mengikuti program entrepeuner dari kelas 1 dan 2 terlihat jelas. Karena ini adalah penambahan kunci kesuksesan yang harus dimiliki bagi jiwa entrepeuner. Acara seminar bertepatan dengan ujian yang mungkin membuat mimik muka terlihat tegang. Namun dengan gaya pencerahan yang diberikan dapat menyejukkan suasana yang memang sudah dingin oleh AC. Perbandingan-perbandingan dalam mengenali kehidupan yang sedang kita jalani dan bagaimana panca indera berfungsi.

Selain itu juga ada pelatihan bagaimana menemukan gagasan bisnis melalui pendekatan potensi diri. Dalam buku ‘’Emotional Intelligence,’’ anda harus cerdas secara emosional. Ada pengusaha yang tidak mampu menguasai tingkat emosinya dan sikap seperti ini bisa mematikan bisnisnya sendiri.

Saya secara pribadi sangat menghargai kesempatan emas ini yang tidak bisa didapatkan kapan saja. Menjadi wirausahawan adalah tantangan yang berisiko besar. Kalau mental tidak disiapkan sejak dini, pondasi bisnis akan gampang roboh.

Memasuki komunitas baru, mengidentifikasi peluang dan memanfaatkan peluang serta bertahan dan bertumbuh di bisnis. Tiga kunci utama yang telah diajarkan pada acara seminar tersebut. Serta kait-kiat menciptakan bisnis juga diberikan. Dari problem menjadi produk, problem-prospek-kemungkinan solusi-percobaan-pengembangan produk. Elemen tersebut penting untuk memasuki dunia bisnis baru.  Setelah mengikuti program entrepeuner ini , TKI diharapkan bisa membuka bisnis sendiri dan lapangan pekerjaan  bagi orang lain. Salam Entrepeuner.

Anung D’Lizta



Anda Ingin Bekerja di Singapura atau negara lainnya, Taiwan, Hong Kong dan Malaysia silahkan hubungi PJTKI RESMI.

Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"
Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati). 
HP : 087 858 111 096 (XL). 
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 

Bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) bukan asing lagi, tetapi PRT yang berubah menjadi seorang pengusah adalah terobosan baru bagi ratusan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura. Setelah enam hari bekerja, pada hari Minggu para TKI Singapura menyempatkan waktu liburannya untuk pembelajaran wirausaha di International Singapore School (ISS). Melalui program kewirausahaan ini, para TKI dilatih agar berani bergaul dengan teman-teman baru. Berani interaksi dan berani untuk belajar.

Saat acara penyambutan murid baru di ISS pada Minggu, 8 Juli 2012 jumlah peserta TKI yang mendaftarkan diri semakin bertambah. Pekerja Rumah Tangga (PRT) bersemangat untuk mengikuti program pelatihan yang diselenggaran oleh Devolepment Grup bersama Ciputra Entrepeuner Jakarta.

Bahkan proses pembelajaran dari pukul 10.45  sampai 13.45 waktu Singapura selama kurang lebih enam bulan, sudah melahirkan TKI yang mempraktikan bakat dalam berwirausaha. Salah satunya adalah TKI yang membuat minuman soya bean lalu menawarkan kepada teman-teman sekolahnya.

Langkah awal yang dipraktikan adalah dia mencari pelanggan, bukan mencari keuntungan. Melalui langkah yang baik itu, diharapkan setelah pulang ke Indonesia dia bisa mengembangkan bakat untuk memperluas jaringan bisnisnya.

Sebagai TKI di Singapura, mereka sadar akan ‘Larangan’ melakukan bisnis atau jualan oleh Kementrian Tenaga Kerja Singapura (MOM). Karena sudah ada undang-undang yang menyatakan, ‘Pekerja Rumah Tangga dilarang melakukan pekerjaan di luar alamat majikan’. Namun, larangan itu semestinya hanya berlaku jika si pekerja rumah tangga melakukan kerja sambilan ‘Part Time’ di rumah-rumah orang lain atau menjual barang-barang seperti  MLM.

Program wirausaha tidak bisa berjalan hanya dengan mengandalkan teori saja tanpa praktik. Langkah baik, jika ‘Murid Entrepeuner yang sekaligus Pekerja Rumah Tangga’ bisa mempraktikan bakatnya seperti memasak, menjahit, dan lain-lain diizinkan membuat katering makanan untuk acara ulang tahun teman-temannya dan menjual makanan khas Indonesia atau membuat rancangan baju sendiri lalu memasarkannya di lingkungan Singapura.

Ancaman hukuman bagi TKI yang melakukan pekerjaan sambilan inilah yang membuat ruang praktik bagi PRT tidak nyaman dan leluasa.  Jika kegiatan wirausaha ketahuan oleh MOM, PRT akan dipulangkan atau dikenakan denda dan tidak bisa bekerja lagi di Singapura.

Diharapkan dalam jangka waktu lima tahun ke depan PRT Indonesia bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri dan juga membuka pekerjaan untuk orang yang kurang beruntung. Penanaman kesadaran diri pada PRT harus semakin tinggi agar tidak lagi bergantung dari pendapatan bekerja di luar negeri sebagai PRT.

“Kerja apa saja yang penting halal.’’, Pemahaman itu harus segera diubah. Mayoritas masyarakat Singapura non-Muslim dan sebagai PRT sadar akan pekerjaannya jika majikan bukan Muslim. Maka, ‘halal’ saja belum tentu cukup, ketika hak menjalankan kewajiban agama atau beribadah belum sepenuhnya diberikan.

Langkah bijak seperti yang disampaikan mentor  Antonius Tanan adalah ‘PALUGADA’ (Pa Loe Mau, Gue Ada) ini sangat membantu pelaku wirausaha untuk berani berhadapan dengan tantangan dan berani memetakan pelanggan serta membaca peluang usaha.

Bayangkan saja jika semua PRT bisa menguasi pengetahuan wirausaha dengan baik dan mau mengembangkannya. Ketika selesai kontrak kerja dengan majikan, saat pulang ke kampung halaman, ia tidak akan bingung lagi dan bisa menerapkan usaha barunya.

Salam Sukses Wirausaha dari PRT Singapura 

Anda Ingin Bekerja di Singapura atau negara lainnya, Taiwan, Hong Kong dan Malaysia silahkan hubungi PJTKI RESMI.

Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"
Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati). 
HP : 087 858 111 096 (XL). 
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 
.

*****

Anung D’Lizta

Kursus PRT di Singapura Tawarkan Masa Depan yang Lebih Cemerlang
Jakarta, Aktual.co — Ketika berusia delapan tahun, Lisa Padua kehilangan segalanya, setelah ayahnya meninggal dunia, keadaan memaksanya untuk meninggalkan sekolah dan menjadi pembantu rumah tangga di Qatar, kemudian Singapura.

Dua puluh satu tahun kemudian, dia masih bekerja di Singapura sebagai pembantu rumah tangga (PRT), tapi sekarang memiliki tiga bisnis dan berpenghasilan cukup untuk mengirim enam keponakannya ke perguruan tinggi di Filipina.

Padua mengatakan dia berhutang pada sebuah sekolah usaha mikro bernama Aidha di Singapura atas keberhasilannya. Sekolah tersebut melatih perempuan seperti dia mengelola kekayaan dan manajemen bisnis, sehingga mereka dapat membangun masa depan yang lebih baik saat kembali ke rumah mereka di Filipina, Indonesia dan Myanmar.

"Saya seorang anak petani. Jadi, saya berkata suatu hari saya ingin memiliki peternakan sendiri, rumah sendiri dan kerbau sendiri. Karena saya tidak sekolah hingga ke perguruan tinggi, maka saya ingin keponakan saya meraih impian mereka menjadi kenyataan," ungkapnya.

Sekolah Aidha menawarkan kursus selama sembilan bulan dengan biaya 350 dolar Singapura yang mengajarkan penggunaan komputer, keterampilan komunikasi dan keuangan. Kelas yang berlangsung selama tiga jam tersebut diadakan dua minggu sekali untuk mengakomodasi perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga, pengasuh anak dan pengasuh orang tua.

Para siswa yang berambisi mengambil modul sembilan bulan untuk lebih intens belajar yang dapat membantu memulai usaha mereka.

"Perjalanan transformasi ini memungkinkan mereka untuk mandiri secara finansial," kata Direktur Eksekutif, Aidha Veronica Gamez.

Gamez, yang memegang gelar MBA dari University of Chicago dan bekerja di Credit Suisse dan Boston Consulting Group, menggunakan pengalamannya untuk membuat modul praktis untuk dunia nyata.

Menabung untuk masa depan adalah inti dari kursus tersebut.

Games mengatakan, tantangan terbesar dalam memutus siklus kemiskinan adalah menemukan kegiatan produktif untuk menghasilkan uang untuk wanita yang berada di rumah daripada menghabiskannya untuk hal-hal yang akhirnya malah menyusahkan keluarga.

Setidaknya terdapat 211.000 pembantu rumah tangga asing bekerja di negara kecil dan kaya Singapura dengan penghasilan 300 dollar Singapura sampai 600 dollar Singapura per bulan. Hong Kong dan Taiwan juga mendapat perhatian besar dari para perempuan tersebut.

Jumlah uang yang mereka kirim ke rumah mereka jumlahnya sedang secara individual, namun secara keseluruhan pengiriman uang dari ratusan ribu perempuan yang bekerja luar negeri tersebut sangat besar, yang dibajak miliaran dolar ke perekonomian Filipina, Indonesia dan Myanmar.

Sebuah laporan Bank Dunia baru tentang remitansi menyatakan 26 miliar dollar telah mengalir ke Filipina tahun ini, di mana menyumbang hampir 10 persen dari produk domestik bruto negara itu.

Mengarahkan dana tersebut ke proyek-proyek kewirausahaan bisa memiliki efek multiplier yang lebih besar bagi negara-negara berkembang, terutama di daerah pedesaan.

Gamez mengatakan, tujuannya bukan hanya untuk memberikan keterampilan bisnis, tapi untuk mengubah perempuan menjadi "agen perubahan yang positif".

Di desa-desa seperti daerah tempat Padua dibesarkan, pertanian tandus, peternakan terlantar dan orang-orang dibiarkan tanpa pekerjaan tanpa dana tersebut. Tapi pertanian Padua dibeli menggunakan tabungan yang sekarang dikelola oleh kakaknya. Mereka mempekerjakan hingga 18 petani, menyediakan lapangan kerja dan penghasilan bagi tetangganya.

Padua juga menyewa sebuah rumah untuk keluarga dan berinvestasi dalam bisnis seorang teman yang menjual makanan beku ke toko-toko lokal.

Semangat berbagi disebarkan ke banyak perempuan yang mendaftar di Aidha. Hampir setengah dari 500 siswa tahun ini didukung oleh majikan mereka, yang membayar semua atau sebagian dari biaya kursus.

"Orang-orang lebih murah hari dari yang dipikirkan. Jika anda memiliki pekerja rumah tangga, ciptakan hal berbeda di rumah anda," terang Gamez.


Anda Ingin Bekerja di Singapura atau negara lainnya, Taiwan, Hong Kong dan Malaysia silahkan hubungi PJTKI RESMI.


Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"
Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati). 
HP : 087 858 111 096 (XL). 
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 

@IRNewscom| Singapura: MENTERI Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar ketika berada di Singapura meninjau program kursus yang diselenggarakan untuk pembantu rumahtangga (PRT) Indonesia, yang dilangsungkan di Sekolah Indonesia Singapura (SIS), sebagaimana diberitakan dalam portal berita Kemlu hari ini, Rabu (16/1).

Menakertrans menjelaskan kepada para peserta kursus, mulai tahun 2017 ditargetkan tidak ada lagi pekerja Indonesia di Singapura yang bekerja di sektor domestik. Karena itu, TKI yang hendak bekerja di Singapura bakal dibekali keterampilan kerja dan kemampuan bahasa yang baik sehingga nantinya TKI yang bekerja di Singapura harus berbasis pada 4 jabatan kerja yaitu pengurus rumah tangga, tukang masak, pengasuh bayi, dan perawat jompo.

"Secara bertahap kita geser TKI domestic workers di Singapura menjadi TKI formal dengan jabatan kerja yang jelas. Kita jadikan Singapura sebagai salah satu pilot project penerapan Roadmap Zero Domestic worker tahun 2017," ujar pria yang akrab disapa Cak Imin

Cak Imin juga mengunjungi shelter PLRT yang berada di KBRI Singapura dan berdialog dengan para PLRT. [edw-15]

Anda Ingin Bekerja di Singapura atau negara lainnya, Taiwan, Hong Kong dan Malaysia silahkan hubungi PJTKI RESMI.

Proses di Jakarta - Jawa Tengah - Jawa Timur
Informasi Lebih Lanjut Silahkan langsung Telpon Ke HP "Pak Agus"
Maaf Kami Tidak Melayani SMS
Karena Banyaknya Peminat Kami tidak Bisa membalas SMS.
HP : 081 235 491 898 (Simpati). 
HP : 087 858 111 096 (XL). 
HP : 0856 0802 8600 (IM3) 




Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan Terbaik Dari Asia
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan berkinerja lebih bagus dibanding pekerja dari negara-negara Asia lainnya yakni dari Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Mongolia.Mereka berkinerja bagus dan sampai sejauh ini relatif tidak ada masalah yang cukup berarti.

Jumlah TKI di Taiwan adalah yang terbanyak dibanding pekerja yang berasal dari negara-negara Asia lainnya.Urutan selanjutnya adalah pekerja dari Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Mongolia. Mereka bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, anak buah kapal (ABK) di kapal perikanan, pengasuh jompo, dan pembantu rumah tangga.

Keberadaan TKI jelas turut memberi andil bagi kemajuan ekonomi Taiwan. Tki pada umumnya memahami dan menghargai budaya orang-orang Taiwan, sehingga keberadaannya disambut baik oleh masyarakat Taiwan. Sebaliknya pihak Taiwan juga sangat menghargai TKI serta para pekerja asing lainnya.

Dirut ANTARA, Ahmad Mukhlis Yusuf memuji perhatian serta bantuan yang diberikan CLA yang mengedepankan sisi kemanusiaan, martabat, persamaan, dan keamanan bagi para pekerja asing, termasuk para TKI.

Ia juga memuji CLA yang memberikan panduan tertulis secara lengkap kepada para pekerja asing, termasuk TKI yang baru datang di Taiwan, sehingga kebijakan itu memberikan ketenangan dan kejelasan hukum bagi para pekerja tersebut.

Taipei (Antara) - Pekerja asal Indonesia memenangi lomba fotografi bertema "Kesan Indah Taiwan vs Rupa Asli Indonesia" yang diselenggarakan Radio International Taiwan (RTI) bekerja sama dengan Kantor Berita Antara dalam rangka meningkatkan hubungan kedua belah pihak khususnya melalui media massa dan kebudayaan.

Irawan, pada acara yang juga sekaligus pembukaan pameran foto tersebut di Taipei, Minggu, meraih penghargaan dan uang tunai sebesar 30.000 Dolar Taiwan (setara Rp9 juta).

Irawan mengatakan, karya yang berjudul "Doa Bersama" itu menggambarkan ketaatan pekerja kita di luar negeri dalam menjalankan ibadahnya. Kebebasan menjalankan ibadah secara terbuka memang mendapat jaminan dari pemerintah Taiwan.

"Sungguh indah toleransi beragama di Taiwan. Untuk itu sebagai pekerja di negeri orang hendaknya kita patuh mengikuti peraturan di negara setempat dan jangan merusak kepercayaan yang telah diberikan," kata Irawan yang berniat memberikan uang hadiahnya kepada orang tuanya di Tanah Air.

Selain Irawan, juara kedua diraih Rangga Aditya (Khas Kesatuan Taiwan) dengan karya yang menggambarkan adanya kedekatan budaya Taiwan dengan Indonesia seperti dalam pakaian tradisional salah satu daerah di Taiwan yang mirip dengan pakiaan khas daerah Kalimantan yang berwarna terang.

Juara ketiga diraih Hadzig Fraboyir (Teman Kecilku, Ayo Makan Bersama Nasi Kuning) dengan foto yang menceritakan keterkejutan mahasiswa studi doktoral itu akan ketertiban anak-anak kecil Taiwan dalam mengantri untuk sekedar mendapatkan sepiiring nasi tumpeng Indonesia.

Rangga, mahasiswa yang sedang studi master itu berhak atas hadiah uang sebesar 20.000 Dolar Taiwan atau senilai Rp6 juta. Sedangkan Hadzig, mahasiswa yang sedang studi program doktoral mendapatkan uang sebesar 10.000 Dolar Taiwan atau setara Rp3 juta.

Pameran Foto bersama itu melibakan karya wartawan foto Antara dan juga para pekerja dan WNI lainnya di Indonesia yang memang sengaja didorong oleh Radio Taiwan International (RTI) guna mendorong cerita sejujurnya tentang kehidupan WNI selama tinggal di negara tersebut. (*)

Pada Tanggal 9 Oktober 2011, Bureau of Labour Affairs, New Taipei City mengadakan lomba pidato dalam bahasa Taiyu dan Mandarin. Peserta yang mendaftar adalah tenaga kerja asing sebanyak lebih dari 200 orang dari Indonesia, Philipina, Thailand dan Vietnam. Peserta dari Indonesia sebanyak 45 pendaftar dan yang berhasil masuk ke babak final sebanyak 15 orang.
Untuk lomba pidato dalam bahasa Taiyu, dari peserta Indonesia bernama Unengsih memenangkan juara I, dua orang TKI ikut memenangkan juara harapan atas nama Sari dan Ati. Sedangkan lomba pidato bahasa Mandarin, peserta dari Indonesia bernama Narwan berhasil meraih juara I.
Foto 1. Para pemenang lomba pidato Bahasa Mandarin (sebelah kiri, TKI a.n. Narwan yang bekerja di Pabrik Sanyo berhasil meraih Juara I Lomba Pidato Mandarin)

Pemerintah Taiwan sangat peduli dengan keberadaan TKA yang bekerja di Taiwan. Berbagai kegiatan dan perlombaan dilakukan untuk memberikan hiburan yang menyenangkan para pekerjanya. TKI sangat memanfaatkan liburannya dengan baik dengan mengikuti kegiatan-kegiatan dan perlombaan perlombaan antara lain lomba menyanyi, lomba pekerja teladan dan lomba menulis puisi dan cerpen serta lomba pidato. Di setiap lomba-lomba tersebut tenaga kerja dari Indonesia selalu menjadi juara yang membanggakan. Selamat kepada para pemenang dan sukses selalu.

 Foto 2. Para pemenang lomba pidato bahasa Taiyu (terhitung dari sebelah kiri urutan ke 1 adalah TKI a.n Unengsih meraih Juara I , urutan ke 5 TKI a.n Sari, dan urutan ke 7 TKI a.n Ati pemenang harapan lomba pidato bahasa Taiyu)

Foto 3. Foto pemenang juara lomba pidato Taiyu bersama dengan majikan dan keluarganya.

Foto 4. Foto bersama dengan teman–teman supporter dari pabrik Sanyo.

 Foto 5. Suasana saat babak final lomba pidato Taiyu- Mandarin

Sejak ditetapkannya dua Penulis Cerpen Terbaik Bilik Sastra VOI RRI, yakni; Nadia Cahyani (BMI Hong Kong) dan Nessa Kartika (BMI Singapura) komunikasi pun semakin gencar antara mereka denganku. Meskipun itu hanya melalui SMS.

“Bagaimana, Nad, sudah siap berangkat?”

“Iya, Teteh, siaaaap graaak!” sahut Nadia.

“Oke, TTDJ, ya!”

Kemudian giliran Nessa Kartika kusapa:”Nessa, sudah siapkah terbang ke Jakarta?”

“Siaaaap, Bun!”

Tentang tiket pun kutanyakan langsung kepada Sang Komandan VOI RRI, Pak Kabul Budiono, dijawabnya:”Ya, semuanya telah siap, Teteh.”

Mereka mendapat fasilitas menginap selama 3 malam di Hotel Sultan, 16-18 Agustus. Dijadwal ke Senayan, 16 Agustus 2011, mendengar Pidato Kenegaraan Presiden RI. Kemudian menghadiri Upacara Kemerdekaan ke-66 pada 17 Agustus 2011.

Begitu Nadia mendarat di Bandara Cengkareng, ia langsung menghubungiku.”Aku sudah di Cengkareng, Teteh. Ini lagi nunggu Nessa, katanya sih, pesawatnya delay 2 jam.” Alamaaaak!

Kulirik jam dinding, telah lewat waktu berbuka bahkan sebentar lagi tarawihan. ”Waduh, apa dirimu sudah buka, Nad?”

“Sudah, Teteh, ini ditemani teman-teman dari VOI RRI.”

“Oh, syukurlah, jadi dirimu gak sampai kelayapan sendirian di situ, ya,” hiburku meledeknya.”Maklum, dikau kan ayune, janda kembang gitu loh….”

“Wahahaha, Teteh, ada-ada saja!” Terdengar tawanya yang ceria.

Aku tidak ikut mendampingi mereka, baik ke Senayan maupun Istana Merdeka. Sudah ada yang mengawal mereka dari VOI RRI. Maka, ketika saatnya Pidato kenegaraan, aku penasaran menyimaknya di rumah melalui siaran televisi.

Ketika Ketua DPD Erman menyebutkan; TKI Teladan serta kamera menyorot dua sosok perempuan tangguh, biasa disebut sebagai pahlawan devisa, seketika dadaku dilambun sejuta rasa; sukacita, bangga, mengharu-biru. Aku tidak bisa merangkainya dengan kata-kata. Ada titik-titik bening menggayuti di sudut-sudut mata ini.

Setidaknya teror-teror yang kulakukan demi menyemangati mereka agar menulis, menulis, menulis, akhirnya membuahkan hasil. Ya, mereka memang menulis, dan karya mereka terpilih, dedikasi mereka pun terhadap pengembangan literasi di kalangan BMI merupakan nilai plus.

Mereka telah membuktikan kepada dunia, bahwa meskipun dalam segala keterbatasan waktu, bahkan Nessa hampir tak pernah diberi cuti selama 6 tahun sebagai BMI Singapura: “Aku Berkarya!”

Penyambutan Pahlawan Devisa: Penulis Cerpen Terbaik Bilik Sastra
Petang itu, aku diundang pada acara Penyambutan Pahlawan Devisa di Ruang Ronodipura, RRI, jalan Merdeka Barat. Aku diantar putriku, berangkat pukul 13.30 dari Depok.

Manakala melihat Nadia dan Nessa didandani dengan kebaya dan tampil cantik, kemudian dipanggil untuk talkshow bersama Ibu Dirjen RRI dan Ibu BNP2TKI, keharuan dalam hatiku serasa membuncah. Sungguh, aku merasa ikut bahagia dan bangga.

“Jadi, setelah Anda pulang ke Tanah Air, apakah akan kembali ke Hong Kong atau apa rencana Anda ke depan?” tanya Nova, sang MC.

Nadia menjawab dengan lugas:”Saya sudah lama meninggalkan dua anak. Saya ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, dan tentu saja terus menulis. Seperti Teteh Pipiet Senja yang suka meneror saya; ayo, mana naskahmu, cepat kirimkan!”

Demikian pula Nessa menjawab tegas:”Saya ingin menjadi penulis handal seperti Bunda Pipiet Senja. Beliaulah yang selama ini suka meneror saya agar terus menulis.”

Saat itulah aku diminta berdiri, memperlihatkan tampangku yang manini ini ke hadirin, serta merta mendapat keplokan. Duhai, jujur saja, aku ingin menangis bahna haru!

Pada acara Penyambutan Pahlawan Devisa, penulis cerpen terbaik Bilik Sastra petang ini, Nadia Cahyani dan Nessa kartika tak ubahnya bak primadona. Disorot kamera secara terus-menerus, dibanjiri hadiah, disalami dan dielu-elukan.

Aku sungguh berharap, sejak saat ini keduanya akan semakin konsen dan lebih serius lagi untuk melahirkan karya-karya terbaik mereka. Ramadhan kali ini, tentunya untuk dua sosok ini merupakan keberkahan yang tiada disangka-sangka.

Semoga pula keberhasilan mereka akan diikuti oleh kaum BMI dimana pun berada.

Bravo, Nadia Cahyani, Nessa Kartika!

Jakarta, BNP2TKI, Senin (24/9) - Munawaroh, mantan Ketua Majelis Taklim Cabang Tai Po BMI Hong Kong, selain mempunyai suara tilawah Quran yang sangat merdu, juga merupakan salah satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bertipe pekerja keras. Selain sibuk dengan pekerjaan di rumah majikan, ia juga sibuk belajar saat libur. Seakan tiada waktu tanpa belajar dan mengajar.
 

Muna –panggilan akrabnya– sangat ramah dan murah senyum. Ia suka berbagi ilmunya kepada teman-teman sesama TKI. Ia dengan telaten dan sabar mengajari teman-temanya, baik yang mau belajar mengaji, menjahit, komputer, maupun kerajianan tangan, seperti membuat bunga dari sabun, manik-manik tas rajut, dan sarung bantalan sofa.

Muna menyambut dengan senyum dan pelukan hangat saat reporter DDHK News, Lutfiana Wakhid, menemuinya di sela-sela kesibukannya mengajari teman-teman untuk membuat kerajinan tangan.“Tahun 2005 saya mulai menginjakan kaki di Tai Po mengikuti majikan baru. Saya memulai kisahnya sebagai TKI di Hong Kong. Dengan sedikit teman saya berusaha berbaur. Suatu hari ada sahabat memperkenalkan saya masuk di suatu majelis Ta’lim BMI cabang Tai Po,” kenang Muna seperti dikisahkan DDHK News.

Majelis Ta’lim Cab. Tai Po m
egadakan lomba MTQ, Sholawat, dan Rebana. Munawaroh didesak untuk ikut. “Alhamdulillah dapat juara 1 MTQ dan juara 1 juga bidang Sholawat,” kenangnya. MTQ memang bukan hal baru baginya. Sejak Madrasah Ibtida’iyah (MI) ia menekuni lomba tersebut mulai tingkat desa sampai provinsi. “Saya sering mendapatkan kesempatan meraih prestasi, juara,” katanya.

Di Hong Kong semangat juangnya bergolak lagi dengan pemandangan yang kurang bersahabat dengan norma dan budaya Indonesia. Ia pun menjadi anggota Majelis Ta’lim Cab Taipo.Sambil belajar dan mengajar Al-Quran dengan metode An-Nahdliyah, Muna mencoba Mengajar MTQ dan sholawat kepada sesama TKII Hong Kong. Di sela sela kesibukan mengurus majelis, ia juga sering mengikuti pelatihan-pelatihan, termasuk training kewirausahaan, yang sering diadakan Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) dan KJRI.

Peraih penghargaan ”The Culture for Asia” dari The Hong Kong Polytechnic University ini juga pernah mengikuti dialog bersama Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat berkunjung ke Hong Kong. Prestasi yang pernah diraih oleh Munawaroh di antaranya yaitu juara 1MTQ Majelis Ta’lim Tai Po 2005, juara 1 Sholawat Majeis Ta’lim 2005, juara cerdas cermat Majelis Ta’lim 2006, juara 3 menulis BMI Hong Kong 2009, juara 1 Pidato Pelangi Muslimah II, juara 3 MTQ KJRI HK 2011, dan juara 2 “The Culture for Asia” The Hong Kong Polytechnic University.

Munawaroh saat ini sedang aktif mengajari teman-teman untuk belajar kerajinan tangan. Ia berharap teman-teman TKI Hong Kong bisa menjadi TKI yang mandiri setelah pulang dari Hong Kong dan membawa ilmu sebanyak banyaknya.“Pesan saya kepada semua
shohibfillah, jangan mudah menyerah untuk belajar dan maju. Jangan takut gagal, siapa lagi kalau bukan kita yang mampu mengubah masa depan kita. Hanya diri sendiri yang mampu membangkitkan semangat dalam menggali potensi diri, juga jangan pelit untuk berbagi ilmu dengan sesama, yang kita harapkan hanya ridho Allah dan manfaat dari apa yang kita ajarkan,” katanya.

Menurut dia wajib hukumya mengajari pada yang lain apa yang kita miliki. Sedikit apa pun berbagilah, karena kenikmatan hati tidak mampu dinilai dengan uang. “Kenikmatan hadir di hati kala kita mampu bersyukur dan ibadah serta mampu menyukseskan orang lain,” tuturnya.
Ia berpesan bagi teman-teman TKI Hong Kong yang berminat untuk belajar membuat kerajinan tangan ataupun belajar mengaji, bisa menghubungi Munawaroh lewat email monas_1000@yahoo.com. (hpp/b)

konter hp tki taiwan
Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tidak selamanya menyedihkan. Berkat usaha dan doa yang maksimal, maka kesuksesan pun bisa diraih, seperti yang dialami oleh Berti yang kini sudah mempunyai 100 konter HP dengan omset 20 juta perbulan.


Mantan TKI Taiwan ini tercatat dua kali bekerja sebagai TKI di Taiwan. Pertama , ia bekerja ke Taiwan pada 1999. Ia bekerja sebagai pengasuh orang jompo, dan kontrak kerja pertamanya berakhir pada 2001. Kedua, tahun 2007 dia kembali lagi ke Taiwan bekerja sebagai perawat,
“Saat di Taiwan, aku mendapat gaji Rp 4,5 juta perbulan, sebagian aku kirimkan ke Indonesia untuk modla usaha, sebagian lagi untuk biaya hidup saya di Taiwan,” cerita Berti yang ditemui beberapa waktu yang lalu.

Uang yang dikirimkan ke tanah air inilah yang kemudian digunakan untuk membeli tanah untuk usaha.
Namun kesuksesan yang dia capai sekarang tidak dia dapatkan dengan mudah, dia berulang kali mengalami kegagalan hingga menyebabkan dia kembali lagi pada tahun 2007.

“Untuk pekerjaan kali ini, tidak sesuai harapan aku, pekerjaannya tidak sesuai dengan perjanjian kerja.aku protes dan pulang serta mengadu ke BNP2TKI, aku langsung bertemu dengan Pak Jumhur. Aduanku ini diterima baik oleh beliau,” jelas ibu dua anak ini.
Lalu dengan modal yang dia miliki ini, dia mulai merintis usahanya kembali. Berti membuka wartel selama beberapa tahun, wartelnya pun cukup ramai, namun usahanya ini mulai sepi lantaran mulai maraknya handphone.

Berti kemudian merintis usaha lain, ia membuka jual beli motor China. Namun usaha tersebut tidak berjalan lama karena maraknya persaingan jual beli motor. Wanita yang peduli dengan TKI ini akhirnya membuka usaha rumah makan, sampai sekarang rumah makannya masih berdiri dan lumayan laris.
Berti lantas melihat peluang lain, dia pun membuka konter HP. Secara tidak diduga konter yanng dibukanya ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Banyak pelanggan dan pembeli di konter HP nya.
“Setiap harinya puluhan orang belanja di konter saya. Karena banyak pelanggan, omset toko saya mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 1,5 juta perharinya,” terangnya.

Konter-konter HP mililik Berti kini berjumlah 100 kios yang tersebar di Lampung Timur dan Lampung Selatan. Selain melayani jual beli HP, pulsa, aksesoris, konter HP miliknya juga melayani jasa servis HP.
“Setiap bulan omset kios HP ini mencapai Rp 20 juta – Rp 30 juta. Bagi saya ini sudah lebih dari cukup,” ujar Betty sambil menunjuk ruko 2 lantainya yang bergaya modern minimalis itu.

tkw hong kong kuliah
TKW adalah Tenaga Kerja Wanita Indonesia yang bekerja di luar negeri. Umumnya negara tujuan mereka Singapura, Malaisya, Brunai darusalam, negara di Timur Tengah, Taiwan Hongkong dan lain lain. Kali ini saya akan berbagi kehidupan TKW Hongkong dari segi positif, yang sangat berbeda dengan tulisan saya sebelumnya.
 

Hongkong adalah negara bagian China yang di kenal dengan sebutan negeri beton yang elok, bersih, disana sini berdiri gedung gedung beton yang gagah. Rata-rata TKW kerja disini betah sampai beberapa kontrak baru pulang ke tanah air memulai usaha baru. Mengapa mereka betah di Hongkong?. Karena TKW disana di atur sedemikian rupa sehingga hak hak mereka bisa di nikmati semerdeka merdekanya buruh. Mereka mendapat jatah libur setiap minggu dan libur nasional. Di liburan itu banyak kegiatan yang bisa di kerjakan tergantung kebutuhan individu masing masing, mau hura hura, atau cuma kumpul teman sekampung, atau mengikuti kegiatan yang lebih bergengsi contohnya ngumpul blogger, ibadah, Kuliah dan lain sebagainya.

Kebetulan saya termasuk TKW aliran kanan hehehe…..(jitak aja nih, sombong). Latar belakang minim ekonomi menjadikan saya hemat dalam urusan gaji, berbusana tak perlu ganti setiap libur yang penting branded biarpun tiap libur itu itu aja hehehe…. (tonjok lagi aja nih, makin sombong).

Sejak mendapat kesempatan libur pertama saya suka baca info di koran bahasa Indonesia di HK sampai saya menemukan iklan lembaga pendidikan di Hongkong. Untuk tahun 2007 saat itu tidak ada jurusan yang saya minati, saya tidak suka sama management bisnis padahal saat itu ya cuma ada satu jurusan itu saja di saint Marry college, keinginan untuk menambah ilmu tidak pernah surut walau pekerjaan kadang menguras energi saya tak lelah mencari kesmpatan. 

Beberapa tahun kemudian Saat Universitas Terbuka perdana ada di Hongkong saya tertarik dengan S1 Guru SD, saya sudah mempersiapkan sedemikian rupa namun tertunda karena kondisi kerja yang membuat saya tak bisa nyambi dan lanjut karena hampir tiap istirahat saya tak bisa membuka komputer padahal semua modul modulnya di akses di komputer. Akhirnya saya memutuskan pindah kerjaan dan saya masuk ke salah satu lembaga pendidikan YMCA of Hongkong kali ini bukan sarjana namun diploma bersertifikat (NAMC) Nort American Montessori Center Canada. Jika saya pulang Indonesia saya bisa melamar menjadi Guru namun hanya guru TK yang mungkin tak seberapa gajinya. Namun saya bahagia karena saya seperti ini melalui proses murni cucuran keringat sendiri di sertai tuntutan keluarga sebagai tulang punggung, profesi sebagai TKW nyambi mencari ilmu itu adalah anugrah besar dalam hidup saya. Harapan Disamping itu saya masih ingin mengikuti kursus kursus singkat di YMCA yang biayanya terjangkau tidak semahal NAMC.

Di Hongkong Banyak lembaga Pendidikan untuk TKW yang telah saya ketahui adalah program managemen bisnis, komputer, Bahasa Inggris, sarjana Calon Guru dan olah ketrampilan dari memasak, facial, rias penganten, menjahit, Piano, gitar, semua bisa di ikuti disini dengan mudah asal prinsipnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Memang semua memerlukan biaya, jika saya bisa mengapa anda tidak bisa?. coba guntinglah dana libur yang glamour lalu pakailah buat bayar sekolah.

Bersyukur saya memiliki teman teman yang luar biasa di Hongkong, saya suka menyebut mereka bukan TKW biasa. Mereka adalah Aulia, Fera, mbak Ani dan Pak Ludovicus untuk Pak Ludovicus ini bukan TKW tapi saat saya kenal beliau dulu adalah Manager editor Koran Indonesia yang sekarag bertugas di Belgia. Dari mereka saya mendapat banyak wawasan dan perilaku positif menjadi TKW.
Apakah anda ingin kuliah namun mentok biaya di dalam negeri?. Cobalah jadikan Hongkong sebagai batu loncatan kesuksesan masa depan, tak masalah harus menjadi TKW toh prioritasnya kerja mencari duit agar bisa buat kuliah sekaligus membantu keluarga.
winter,hongkong 2013

tkw kuliah
Jakarta, kepergiannya atas tenaga kerja wanita (TKW) pada 1998 silam cuma buat satu tujuan: agar bisa mendapatkan uang banyak untuk melanjutkan kuliah. Sekarang ini, dia tak cuma sukses menyabet gelar sarjana, tetapi merupakan dosen hukum di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten.

Nuryati Salopari terlihat sumringah petang itu. Memakai kebaya warna kuning emas, dia dianugerahi piagam penghargaan Purna Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Motivator di depan Wakil Presiden Boediono. Nuryati dirasa semacam sosok TKI yang dapat merupakan motivasi untuk TKI-TKI lainnya.

Penghargaan itu diserahkan dari Menakretrans Muhaimin Iskandar di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/12/2010). Selain Nuryati, terdapat pula 4 bekas TKI lainnya yang memenangkan penghargaan beserta bermacam kategori.
Cerita keberhasilan ibu 3 anak tersebut berawal saat dia menghabiskan pendidikan SMA tahun 1998. Lantaran kesulitan ekonomi, Nuryati tak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat S1. Dia pun akhirnya menentukan jadi TKW di Arab Saudi.

"Alasan saya buat ke sana (Arab Saudi) ketika itu buat mendapatkan modal kuliah," kata Nuryati saat ditemui detikcom usai acara.
Nuryati mengatakan, di Arab Saudi, ia bekerja sebagai baby sitter pada satu keluarga. Beruntung, ia mendapatkan majikan yang cukup baik. Sang majikan bahkan mau mengontraknya untuk bekerja selama 10 tahun.

"Majikan saya mau langsung kontrak 10 tahun, tapi saya bilang mau kuliah untuk kepuasan batin saya. Sebab kalau sudah tua dan tidak kuliah, pasti saya akan menyesal," kisah Nur, yang belum lama melahirkan putra ketiganya ini.

Memang, kata Nur, dirinya saat itu menghadapi dilema. Ia harus menyisihkan remitannya (pendapatan) untuk membantu kehidupan orangtua dan adik-adiknya di Indonesia. Namun, tekad untuk kuliah tidak bisa ditahan-tahan lagi.

"Suatu ketika saya melihat prosesi wisuda Universitas Al Ahzar, Mesir, yang ditayangkan melalui televisi. Keinginan saya semakin kuat. Alhamdulillah akhirnya majikan saya juga mengizinkan," ungkap Nuryati.
Sepulang dari Arab Saudi, Nuryati langsung mendaftar ke univeritas tempatnya kini mengajar. Keberuntungan kembali
diraih, ia bisa meneruskan studinya ke jenjang S2 di Universitas Jaya Baya, Pulomas, Jakarta Timur. Nurhayati pun punya pesan kepada rekan-rekannya yang kini masih berjuang mencari penghidupan lebih baik di negeri orang. Ia menyarankan agar uang yang didapat dari hasil bekerja di luar negeri dimanfaatkan untuk usaha-usaha yang produktif. Selama ini, para TKI biasa langsung menghabiskan uang tersebut untuk membeli sesuatu, lalu kembali lagi merantau.

"Kedua, investasikan uang itu untuk pendidikan. Ilmu itu sangat berguna dan tidak akan pernah habis," tutup Nurhayati, yang juga bersuamikan seorang dosen itu. (irw/vit/suaranews)

TKW TELADAN
TENAGA Kerja Indonesia merupakan pekerja dari Indonesia yang mencari nafkah di negeri orang. Tidak seperti yang dialami Heni Sri Sundani, sebagai TKI di Negara Hongkong
Sambil menyelam minum ait itulah yang dilakukannya, yakni disela-sela sebagai pekerja rumah tangga (PRT),  Heni yang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sukses meraih gelar sarjana di Negara Luar.

Seusai menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan Akuntansi di Jawa Barat 2003-2005, Heni memutuskan untuk bekerja sebagai TKI di Hongkong.

Sebelumnya, sebagai PRT,  Heni bergaji sekitar Rp 5 jutaan, sehingga berkesempatan baginya untuk kuliah di Hongkong. Heni kuliah di Saint Mary's University Hongkong Strata 1, diselesaikan Heni. Selama 3 tahun (2008-2011).

Hingga Heni meraih gelar sarjana Entrepreneurial Management dengan titel Bachelor Of Science in Entrepreneurial Management (BSEM).

Berselang kemudian Heni memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sebelumnya, Heni sempat menekuni kontributor media berbahasa Indonesia di Hongkong. Heni kemudian bekerja di Bank Mandiri Remmitance Hongkong Branch sebagai Customer Service (2010-2011).(Bangkapos.com/agus nuryadhyn)

TKW HONG KONG KULIAH
Banyak Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hongkong memanfaatkan waktu liburnya untuk berbagai kegiatan. Dari hanya sekadar jalan-jalan, shopping, kumpul bareng, hingga ada yang memanfaatkan untuk aktivitas yang bermanfaat, seperti mengikuti kegiatan pengajian, menari, kursus keterampilan, sekolah kejar paket B dan C, dan kuliah.


Saya merupakan salah satu BMI yang memanfaatkan waktu luang untuk mengisi kegiatan pribadi. Saya bekerja di Hongkong selama 7 tahun, mulai 2003-2010. Di samping bekerja, saya juga mempunyai minat melanjutkan pendidikan untuk menambah pengetahuan. Kondisi di Hongkong sangat mendukung keinginan saya untuk belajar lagi karena di sana terdapat beberapa lembaga dan perguruan tinggi Indonesia yang membuka kesempatan belajar bagi para BMI. Salah satu lembaga tersebut adalah Action Vision Mision (AVM) Hongkong ltd. dan Saint Marry College.
Selama di Hongkong saya mengikuti pendidikan D1 di bidang  teknologi informatika di AVM Hongkong ltd. Pendidikan D1 ini saya tempuh selama satu tahun, dari April 2009 hingga Maret 2010.
Mungkin banyak yang bertanya bagaimana dengan sistem kuliahnya? Bagaimana cara membagi waktu antara kerja dan kuliah? Apakah majikan mengijinkan? Ini merupakan pertanyaan yang umum dan biasa ditanyakan oleh teman-teman dan bahkan tetangga-tetangga saya di kampung.
Kepergian awal saya ke Hongkong adalah untuk bekerja. Bagi saya hal itu adalah sebuah prioritas. Sedangkan kuliah merupakan kegiatan prioritas kedua. Oleh karena itu, kemampuan mengelola waktu sangat penting. Selama di Hongkong, saya harus membagi waktu untuk bekerja, belajar, dan istirahat. Kuliah di kampus AVM hanya seminggu sekali, yaitu pada hari libur kerja, Ahad. Saya sangat bersyukur karena majikan tempat bekerja sangat mendukung pilihan saya untuk kuliah. Meskipun begitu, majikan juga kadang memberi teguran karena saya dianggap lalai dalam melaksanakan pekerjaan.

TKW SINGAPURA WISUDA
SINGAPURA | DNA - Menteri Negara Ministry of Community Development, Youth and Sports Singapura  Halimah Yacob bersama Duta Besar RI Singapura Andri Hadi telah mewisuda sebanyak 697 TKI yang bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) asal Indonesia.
Acara yang diselenggarakan di Sekolah Indonesia Singapura ini dihadiri oleh sekitar 500 undangan, termasuk para majikan. Dari 697  wisudawan tersebut, 52 orang diantaranya merupakan peserta Program Paket B dan Paket C, dan sisanya adalah peserta kursus Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, komputer, menjahit dan tatarias wajah. Enam lulusan terbaik dari masing-masing bidang telah memperoleh penghargaan dari KBRI Singapura.

Dalam sambutannya, Andri Hadi menyampaikan apresiasi terhadap para guru dan secara khusus kepada para majikan yang telah memberikan ijin kepada PLRT untuk dapat mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan oleh KBRI Singapura.

Ia juga berharap bahwa keterampilan yang diperoleh dari Program P3K,  dapat dimanfaatkan untuk menigkatkan keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan baik di Singapura dan terutama pada saat kembali ke tanah air.  Di tanah air para PLRT dapat memanfaatkan pengetahuan dan  keterampilan yang telah didapat untuk memulai usaha baru.

Selain itu, disampaikan pula harapan bahwa kursus-kursus tersebut dapat juga meningkatkan awareness kepada PLRT mengenai pentingnya keselamatan kerja. Dengan demikian, kecelakan kerja yang kerap terjadi dapat dihindari.

Sementara itu, Menteri Halimah  dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan yang telah belajar dengan keras dan mendorong para PLRT untuk tetap terus belajar untuk meningkatkan kemampuan.

Ia juga menyinggung rencana pemberian 1 hari libur dalam setiap minggu kepada PLRT yang akan mulai diberlakukan pada awal tahun 2013. Dengan adanya hari libur tersebut, diharapkan para PLRT dapat berisitrahat dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif seperti mengikuti kursus-kursus keterampilan seperti ini.

Menurut Halimah, belajar merupakan proses seumur hidup. Halimah dikenal sebagai seorang menteri yang secara aktif memperjuangkan hak dan kesejahteraan bagi para domestic workers di Singapura. Atas usaha dan kerja keras beliau, mulai tahun 2013 akan diberlakukan 1 day off setiap minggu bagi seluruh domestic workers di Singapura termasuk para PLRT Indonesia.

KBRI Singapura sejak tahun 2009 telah mengelola Program Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kerja (P3K). Program yang dirintis oleh Duta Besar RI Wardana ini diselenggarakan di Sekolah Indonesia Singapura (SIS) setiap hari Minggu.

Program P3K meliputi kursus bahasa Inggris, bahasa Mandarin, komputer, menjahit dan tatarias wajah, serta Paket B dan Paket C. Dalam 2 tahun terakhir, kegiatan P3K telah diikuti oleh 3003 PLRT dengan rincian: 958 orang (tahun 2010) dan 1325 orang (tahun 2011). Adapun untuk awal tahun 2012 telah diikuti sebanyak 720 orang. Jumlah peserta didik yang sudah diluluskan sejak tahun 2009 adalah sebanyak 2283 orang.

Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Singapura Simon D.I. Soekarno, menyampaikan bahwa melalui Program P3K ini, diharapkan para PLRT asal Indonesia di Singapura dapat menjadi pekerja yang lebih kompetitif dan berpandangan ke depan. Kami mengantisipasi  jumlah peserta P3K akan meningkat pada tahun 2013 dengan adanya ketentuan libur wajib 1 hari dalam seminggu.

Acara wisuda dilanjutkan dengan peluncuran transfer uang "D.U.I.T" (Dana Untuk Indonesia Tercinta)  oleh Bank Syariah Mandiri dan ditutup dengan acara hiburan dari artis-artis ibukota yaitu Teuku Wisnu, Cici Tegal, Ari Limau dan grup musik Snada.(DNA/depl)

ARTIS TKW
Dibandingkan negara-negara lain, aktivitas tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong jauh lebih banyak dan dinamis. Para pekerja migran itu punya jatah libur rutin. Biasanya mereka jalan-jalan dan bikin acara di Victoria Park.

"Makanya, kalau kita mau bikin acara cukup gampang, apalagi TKW di Hongkong punya koordinator, majalah, dan situs di internet," kata James Chu, warga Tionghoa asal Banyuwangi, yang sejak 1970-an menetap di Hongkong. Selain berbisnis, James yang juga musisi ini sudah merilis beberapa album pop Jawa.

Belum lama ini James Chu dipercaya sebagai bintang tamu sekaligus juri lomba menyanyi yang diikuti para TKW alias buruh migran Hongkong. Antusiasme masyarakat Indonesia di sana luar biasa. "Mereka datang ramai-ramai untuk mendukung jagoannya masing-masing. Suasananya heboh kayak konser artis terkenal saja," cerita James ketika berlibur ke Surabaya.

Meski sehari-hari para wanita Indonesia itu bekerja sebagai pramuwisma alias pembantu rumah tangga, kemampuan bernyanyi sebagian besar peserta lomba karaoke itu di atas rata-rata. Bahkan, tidak kalah dengan penyanyi-penyanyi dangdut di tanah air. "Mereka memang sering nyanyi dan joget bareng di Victoria Park. Dandanan mereka pun bagus-bagus," puji James.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, para buruh migran ini paling banyak memilih lagu dangdut dan koplo. Jenis musik khas Indonesia ini sangat cocok untuk berjoget ria. Maka, ketika peserta lomba tampil di atas panggung para penonton dan suporter berjoget bersama. "Suasana seperti itu yang membuat kami di Hongkong sulit melupakan Indonesia," kata pria yang merantau sejak akhir 1960-an itu.

Siapa pemenangnya? James mengaku lupa nama-nama pemenang kontes karaoke itu. "Yang jelas, juara pertama gadis asal Indonesia timur yang hitam manis. Suaranya benar-benar bagus sehingga dia layak jadi juara," kata James yang pernah menggelar konser di Jakarta dan Surakarta itu.

Selain lomba karaoke, menurut James, warga Indonesia di Hongkong juga pernah beberapa kali mendatangkan artis dari Indonesia. Acara-acara hiburan seperti itu dinilai efektif untuk refreshing para TKW yang setiap hari sibuk dengan pekerjaan di rumah majikan. Mereka juga bisa bersosialisasi satu sama lain karena memang tidak mudah bisa bertatap muka meskipun sama-sama bekerja di kota yang sama.

Seperti James Chu, di Hongkok terdapat cukup banyak warga Tionghoa kelahiran Indonesia yang sukses jadi pengusaha. Mereka umumnya hijrah dari tanah air menyusul pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 yang melarang warga negara asing melakukan bisnis di luar kota kabupaten. Nah, saat itu sebagian orang Tionghoa masih berstatus warga negara asing.

James sendiri merantau sebagai kuli di kawasan Wuhan, Tiongkok, sembari mengembangkan bakat musiknya. Dia kemudian menjadi warga negara Tiongkok sebelum pindah ke Hongkong. Meski berstatus WNA, James dan kawan-kawan selalu menyisihkan waktu untuk pulang ke Jawa Timur. "Kangen sekali kalau nggak berlibur ke Indonesia. Apalagi saya ini kan alumnus sekolah Tionghoa di Surabaya," katanya. (*)

sumber : http://hurek.blogspot.com/

Kali ini saya akan bercerita tentang teman seperjuangan beliau waktu jadi TKW di Arab. Kebetulan teman beliau itu adalah emak saya sendiri yang masih saudara 1 kakek dengan ibu Minah Abdullah.

Seperti yang sudah saya ceritakan, Emak pergi ke Arab Saudi waktu saya masih kelas 5 dan adek kelas 2 SD. Masih sangat kecil dan masih butuh belaian kasih sayang seorang ibu. Saya sendiri kurang tahu pasti alasan emak pergi ke luar negeri untuk apa. Secara ekonomi saya merasa tercukupi, tapi entahlah bagaimana usaha orang tua saya dalam mencukupi kebutuhan kami. Mungkin dengan banting tulang dan mandi keringat kali yach hehe.

Di kontrak pertama, emak punya majikan yang pelitnya minta ampun, cemburuan, rumah besar dan makannya kurang terjamin. Tapi beliau mampu bertahan selama 3,5 tahun. Dan pulang dengan badan separonya dari waktu berangkat dulu alias kurus sekali. Sebuah penderitaan yang kami (keluarganya) tidak pernah tahu, karena beliau tidak pernah menceritakan yang sesungguhnya.

Waktu itu beliau pulang tanpa memberi kabar kepada kami. Tiba-tiba saja beliau sudah ada di depan pintu. Sebuah kejutan yang benar-benar mengejutkan. Dan dari hasil keringat beliau selama 3,5tahun, telah mampu membangun kembali rumah nenek yang sudah mulai rusak sana sini. Saya masih ingat sekali, waktu itu tahun 96/97 dimana uang 7juta rupiah sudah bisa membangun rumah. Meskipun hanya berdiri saja belum ada pintu dan jendela. Lha sekarang??? Uang segitu bisa dapat apa yach???

Rumah sudah berdiri, kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Setelah 6 bulan di rumah, keinginan ke Arab muncul kembali. Akhirnya beliau meninggalkan kami lagi. Di majikan ke 2 nya, tugas sangat berat  tapi majikannya sangat baik. Sampai-sampai finish kontrak diminta nambah kontrak lagi. Beliau mau nambah kontrak tapi dengan mengajukan 2 syarat. Yang pertama harus membiayai emak naik haji, dan yang kedua harus diijinkan pulang cuti pas lebaran. Karena majikan sudah cocok dengan emak, akhirnya 2 syarat itu diiyakan oleh sang majikan.

Dan seperti yang telah dijanjikan (tahunnya 1999), emak terpanggil untuk mengunjungi tanah suci menunaikan ibadah haji. Tapi ada yang aneh, karena sang majikan meminta biaya haji yang sebesar 2000 reyal kepada emak. Waktu itu gaji emak masih 600 reyal. Emak sempat kaget tapi bersyukur dalam hati karena gajinya tidak dikirim ke Indonesia semua. Emak menyerahkan uang 2000 reyal dan berangkat ke tanah suci. 

Ibadah haji berjalan dengan lancar dan beliau pulang ke rumah majikan. Majikan menyambut emak dengan gembira dan berkata "Ketahuilah maryam, ibadah haji itu harus dengan biaya sendiri, tidak boleh dibiayai. Dan ini aku berikan hadiah karena kamu telah menunaikan ibadah haji dengan lancar" sambil menyerahkan uang 2000 reyal kepada emak. Emak kaget, mungkin juga sampai nangis saking senengnya. Ternyata majikannya menepati janji. 

Dan tahun berikutnya, tepatnya tahun 2000 emak dikasih ijin cuti pas lebaran. Yang paling seneng ya saya dan adek. Bisa merasakan lebaran bareng emak hehe. Kali ini emak sudah gemuk lagi ga kaya kepulangannya yang pertama. Hampir 2 bulan beliau di rumah menemani kami setelah itu kembali lagi dengan aktivitasnya yang melelahkan. "Pekerjaan berat kalau dikerjakan dengan senang hati akan terasa ringan". Keyakinan inilah yang membuat beliau mampu bertahan hingga juli tahun 2003.

Juli 2003 beliau pensiun jadi TKW dan ganti saya yang jadi TKW. Waktu itu beliau pulang tidak membawa uang puluhan juta. Tapi beliau tetap bangga karena memiliki kami (saya dan adek) yang merupakan harta beliau yang paling berharga. Dan impian beliau untuk naik haji bisa terlaksana. Yang ternyata, niat untuk naik haji sudah ada sebelum beliau meninggalkan Indonesia. Memang gelar haji beliau tidak diakui layaknya jamaah haji yang berangkat dari Indonesia. Kata beliau "Mak'e ibadah karena Allah bukan semata-mata untuk mendapat pengakuan dari masyarakat". Saya hanya melongo mendengar kata emak itu. 

Tulisan ini, tidak ada maksud untuk pamer, melainkan untuk memotivasi saya pribadi syukur-syukur kalau bisa memotivasi pengunjung blog ini. JANGAN TAKUT UNTUK MEMILIKI IMPIAN. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau ALLAH menghendaki. Seperti halnya Emak saya yang tadinya tidak punya apa-apa, juga bisa memenuhi rukun islam ke 5 melalui jalan yang tak disangka-sangka yaitu jadi TKW. Mari kita gali kembali impian-impian kita yang mungkin telah terlupakan. Dengan berusaha, berdo'a dan menyerahkan keputusan akhir pada ALLAH. Insyaallah apa yang kita impikan akan jadi kenyataan. Amiiiin.

TKW NAIK HAJI

Ibu Maryam 51 tahun, anak ke 4 dari 6 bersaudara. Pernah jadi anak angkat seorang dukun beranak yang bisa jopa japu. Masa kecilnya akrab dengan marahan dan pukulan tapi hanya diam dan tidak berani pulang ke rumah ibu kandungnya yang rumahnya hanya berjarak 3 rumah. Pernah jadi anak angkat seorang ibu baik hati dan di sekolahkan menjahit sampai beliau mahir dalam hal menjahit. Menikah..... bla...bla....bla.... sampai akhirnya jadi TKW dan sekarang jadi penjual jajan keliling dan usaha sampingan catering. Sekian sekilas info xixixixi.
kisah di ambil dari blog : http://tarryholic.blogspot.com 

Kali ini saya akan bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang berasal dari daerah terpencil di kabupaten Magetan. Saat ini beliau terpaksa menjadi single parent karena suaminya lebih dulu dipanggil ALLAH swt.

Puluhan tahun yang lalu, beliau hidup berdua dengan ibunya, di gubuk reyot yang sewaktu-waktu bisa roboh dan mengancam keselamatannya. Hidup sederhana tapi beliau tak merasa kekurangan apa-apa karena tak pernah hilang rasa bersyukurnya. Karena sesuatu hal yang tidak bisa saya ceritakan disini, tiba-tiba pakleknya (adek kandung ibunya) berkata " ati-ati kembrukan omahmu lho" (bahasa indonesianya gimana ya?) Hikz. Kata-kata itu diucapkan dengan nada menghina, sehingga membuat hati beliau panas dan bertekad untuk jadi orang SUKSES.

Sampai akhirnya beliau menikah, dan lahirlah buah hati mereka yang pertama. Kelahiran yang penuh perjuangan, hampir saja dioperasi. Mendengar kata operasi yang waktu itu biayanya 6 juta (uang darimana???), sehingga dengan sekuat tenaga beliau berjuang melahirkan bayi itu. Dan alhamdulillah setelah melalui proses yang tak mudah, bayi perempuan mungil lahir normal tanpa operasi. 

Rupanya tekad untuk jadi orang sukses masih melekat dipikirannya. Akhirnya dengan berat hati beliau meninggalkan bayi yang baru berumur 15 bulan dan suaminya tercinta untuk pergi ke Hong Kong. Sampai Hong Kong beliau kerja keras dan dari hasil keringatnya selama 2 tahun beliau mampu menyulap gubuk reyot jadi sebuah rumah yang megah. 

Kontrak demi kontrak beliau lewati. Kira-kira 2 tahun lalu, beliau merasa lelah kerja terus dan ingin mengabdi kepada suaminya serta merawat bayi mungil yang saat itu sudah hampir lulus SD. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan. Beberapa bulan sebelum beliau pensiun, mendadak ada kabar kalau suaminya kecelakaan yang menyebabkan koma dan dirawat di ruang ICU. Shock!! itulah yang beliau alami. Saat itu juga beliau segera boking tiket pulang ke Indonesia. Tapi karena harus mengatur jadwal dengan sang majikan, beliau tidak bisa langsung pulang. 

Setelah segala sesuatunya beres,  akhirnya beliau bisa pulang. Waktu itu suaminya tidak ada perkembangan dan akhirnya menghembuskan nafasnya sehari sebelum beliau pulang. Malam ini suaminya meninggal, besok Jam 4 sore beliau terbang. Kabar itu disampaikan oleh keluarganya kepada seorang teman disini, tapi sudah dipesen sama keluarganya jangan sampai dikasih tahu kalau suaminya sudah meninggal. Dan sore itu pesawat mengantar beliau ke Indonesia dan jenazah suaminya sudah dimakamkan di kampungnya sendiri (lain kota). Begitu sampai di rumah, beliau mengajak ke rumah sakit. Tapi keluarga berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi dan menyuruh beliau istirahat. 

Dan besoknya, keluarga baru menceritakan yang sesungguhnya. Apa yang terjadi setelah tahu? Beliau pingsan berkali kali dan hanya bisa nangis sejadi-jadinya. Rencana awal ingin pensiun dan berkumpul dengan keluarga, tapi saat beliau pulang tidak bertemu suaminya dan hanya bisa memandang gundukan tanah yang masih basah serta batu nisannya. 

Setelah konfirmasi dengan majikan, jatah cuti yang seharusnya hanya 2 minggu bisa diperpanjang sampai 40 harinya sang suami. Dengan resiko tiketnya hangus dan harus beli lagi yang baru. Yang lebih menyedihkan, tabungan yang seharusnya buat modal dan hidup setelah pensiun, saat itu ludes tanpa sisa bahkan masih kurang untuk biaya rumah sakit dll.

Setelah 40 harinya sang suami, beliau kembali lagi ke Hong Kong. Waktu itu saya juga ikut menjemput ke bandara bersama 2 teman yang lain. Begitu bertemu beliau, kami langsung nangis dan memeluk raga yang keliatan makin kurus dan wajahnya nampak lebih tua dari sebelumnya. Tak ada airmata di pipinya, beliau berusaha  tersenyum meskipun dipaksakan. Sepanjang perjalanan beliau hanya diam seribu bahasa mendengarkan kami berceloteh dengan harapan mampu menghiburnya. 

Ternyata, apa yang terjadi tak seperti apa yang kami bayangkan. Beliau nampak begitu tegar meskipun baru saja kena musibah. Kami semua salut dengan beliau yang memutuskan kembali lagi ke Hong Kong meskipun suaminya baru saja meninggal. Apa yang membuat beliau bisa tegar??? Senyum gadis kecil yang dilahirkan dengan penuh perjuangan itulah yang mampu membuat beliau bertahan. Karena bocah itulah beliau mau memulai perjuangannya dari nol lagi. "Kalau aku ga kembali ke Hong Kong anaku siapa yang membiayai sekolahnya??" kata beliau waktu itu. Mulai hari itu sampai sekarang, perlahan-lahan beliau mampu bangkit lagi dari keterpurukan ekonomi.

Sebuah perjuangan yang tak kenal lelah untuk mencapai sebuah IMPIAN. Memang perjuangan itu belum mencapai titik kemenangan, namun setidaknya beliau mampu menunjukkan kepada dunia terutama kepada pakliknya. Kalau beliau juga bisa hidup layaknya orang-orang di sekitarnya. Dan tahukah apa yang terjadi dengan pakliknya??? Saat ini, keadaan puluhan tahun yang lalu berbalik arah. Beliau bisa memiliki rumah megah dan pakliknya gantian yang tinggal di rumah reyot, kalau hujan tidak berani menempati. Katanya takut roboh dan menimpa keluarganya. Dan saat ini menjadi salah satu penerima Zakat & Sodaqoh. Subhanallah.....

Kisah ini bisa jadi pelajaran untuk saya pribadi dan anda (mungkin), bahwa tak selamanya orang itu diatas dan ada kalanya orang itu dibawah. Begitu juga sebaliknya. Jadi, jangan sombong dengan harta yang kita punya. Karena harta itu hanya titipan ALLAH yang sewaktu-waktu bisa diambilnya lagi. Dan jangan rendah diri dengan kemiskinan yang kita hadapai. Karena ALLAH tak akan memberi ujian melibihi kemampuan yang kita miliki. Tetap semangat!!

JANDA HONG KONG
Mbak Tun 39 tahun. Single parent yang bisa sampai Hong Kong karena HINAAN. Yach.... hinaan yang tak membuat beliau sakit hati tapi malah jadi motivasi untuk terus bertahan dengan kerasnya kehidupan negeri beton Hong Kong. Semoga ALLAH selalu melindungi beliau dan para TKW dimanapun berada. Amiiiin.
kisah di ambil dari blog : http://tarryholic.blogspot.com
Diberdayakan oleh Blogger.